-->

Wednesday, July 27, 2016

GP Jerman Menjadi Balapan Terakhir Rio di Formula 1?

Rio Haryanto 88 Manor Racing Indonesian Driver

Spekulasi tentang masa depan Rio mencapai puncaknya semenjak GP Hungaria pekan kemarin. Rio Haryanto yang menjadi pay driver di tim Manor Racing untuk musim ini memang diharuskan untuk mencari sponsor dengan dana sebesar 15 juta euro. Hingga saat ini, pihak Rio baru membayar sekitar separuhnya, yaitu sejumlah 7 juta euro. Itu berarti seharusnya Rio hanya bisa membalap untuk sekitar 10 GP pada balapan F1 musim ini. Tetapi pada kenyataannya Rio masih membalap pada seri ke-11 yang dikabarkan menjadi seri terakhirnya.

Nama Stoffel Vandoorne pun mencuat ke permukaan. Dia dikabarkan akan menggantikan posisi Rio sejak GP Jerman yang sedianya akan digelar akhir pekan ini. Pembalap masa depan McLaren ini difavoritkan untuk bisa menggantikan Rio di paro musim kedua agar bisa mengais pengalaman di F1.

Namun nampaknya hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, setidaknya untuk GP Jerman. Manor sudah memastikan bahwa Rio Haryanto akan tetap membalap akhir pekan ini. Racing director tim Manor, Dave Ryan menegaskan bahwa mengamankan posisi Rio hingga akhir musim adalah prioritas utama Manor.

Sebelum GP Hungaria pekan kemarin, Rio juga sempat diwawancarai tentang bagaimana situasinya. "Kita lihat nanti. Saya rasa jika kalian melihat saya di Hockenheim kemungkinan besar kalian akan melihat saya hingga akhir musim." Kemudian ketika ditanya apakah kita akan melihat dia di Hockenheim (GP Jerman), dia menjawab: "Saya rasa begitu."

Jadi apakah dengan Rio bisa membalap di GP Jerman menjadi suatu pertanda bagus?

Sekilas mari kita melihat performa Rio musim ini. Pada sesi non race, entah itu sesi latihan maupun sesi kualifikasi, dia mampu bersaing secara ketat dengan Pascal Wehrlein, anak emas Mercedes yang menjadi rekan setim Rio di Manor Racing musim ini. Bahkan pada sesi kualifikasi dia mampu bersaing dengan skor 5-5. Sayangnya di GP Hungaria kemarin Rio gagal mencacatkan waktu pada sesi kualifikasi sehingga catatan rekornya dengan Pascal menjadi 5-6 untuk Pascal.

Nah, anehnya performa bagus Rio di sesi non-race tidak berlanjut pada saat lomba sesungguhnya berlangsung. Dia selalu kalah dengan Pascal jika keduanya sama-sama menyelesaikan lomba. Di setiap awal lomba dia masih bisa bersaing dengan minimal 5 pembalap paling belakang. Menjelang pertengahan lomba hingga akhir lomba barulah entah kenapa dia selalu menjadi nomor buncit dari seluruh pembalap yang menyelesaikan lomba.

Ketika diwawancarai oleh tim motorsport.com Rio menjelaskan permasalahannya. "Kualifikasi selalu menjadi pertarungan yang hebat antara saya dengan Pascal. Tetapi masih ada area yang harus saya tingkatkan lagi, terutama saat lomba. Tidak mudah ketika kita dalam situasi blue flag (diharuskan untuk mengalah pada pembalap terdepan) dan juga kita selalu memiliki strategi yang berbeda. Yang satu harus memakai ban lunak dan yang satunya lagi harus memakai ban keras demi yang terbaik untuk tim dan kita ingin bersaing dengan mobil yang lainnya."

Setelah melihat penjelasan Rio tersebut sepertinya rasa penasaran saya sedikit heran. Ini karena strategi yang diterapkan Rio memang selalu aneh. Dia selalu memakai tipe ban yang lebih keras dari Pascal. Dan walaupun bannya lebih keras tetapi jumlah pit stopnya disamakan dengan Pascal. Kan aneh? Harusnya kalau memakai ban keras ya pit stopnya lebih sedikit. Kalau memang Rio tidak mampu untuk menghemat ban kenapa strateginya tidak disamakan? Atau kalau memang untuk kepentingan tim, kenapa strateginya tidak dibalik? Pascal yang menggunakan ban keras, sedangkan Rio menggunakan ban lunak.

Wajar saja dengan strategi tim Manor tersebut jika banyak fans Manor, terutama fans dari Rio Haryanto yang selalu menyudutkan pihak Manor di Twitter. "Ini mobil Rio kok selalu disabotase. Strateginya juga beda." Itu salah satunya.

Dan kalau memang strategi tersebut memang instruksi dari Manor, berarti Manor telah merusak citra Rio (walaupun saya tidak berharap ini benar). Kenapa? Karena sering memakai ban keras, Rio jadi diidentikkan menjadi pembalap yang safe. Dalam artian tidak agresif untuk merebut posisi di depannya. Kalau saya sih memakai logika ya, bannya saja keras, mobil sering rusak, bagaimana bisa untuk tidak bermain safe. Setidaknya dengan menyelesaikan lomba akan menjadi suatu pengalaman tersendiri dibandingkan ngotot tapi sering tidak finis.

Ya ya ya, apapun itu kita doakan saja semoga Rio tetap bisa membalap di F1 hingga akhir musim ini. Syukur-syukur musim depan masih membalap lagi. Apalagi jika timnya naik kelas, tidak di Manor lagi.

Oh, ya akhir kata. Pak Nahwari mana ya, di awal sering pamer kumis sekarang kok menghilang dari peredaran. Hahaha...



Referensi:
http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/07/160706_video_rioharyanto
http://www.motorsport.com/f1/news/vandoorne-in-frame-for-haryantos-manor-seat-801832/?d=14500&dm=1
http://www.motorsport.com/f1/news/vandoorne-in-frame-for-haryantos-manor-seat-801832/?d=14500&dm=1
http://www.foxsportsasia.com/motorsports/formula-1/news/detail/item446379/manor-working-securing-haryantos-future/
http://www.foxsportsasia.com/motorsports/formula-1/news/detail/item451344/haryanto-compete-germany-despite-funding-issue/


About The Author:

Ferdy Hendrawan [Administrator of this Blog]

Seorang self-employed lulusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya yang kini mendalami dunia trading market dan juga dunia per-Blogger-an. Kunjungi juga blog saya yang baru di Fair_De's Corner


Let's Get Connected: Twitter | Facebook | Google Plus | YouTube

0 comments:

Post a Comment

Feel free to ask if you have any questions..
Don't forget to thick "Notify me" so you can know when I'm answer your question later..
Or you also can bookmarking this post..

Thank you :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More