-->

Saturday, November 14, 2015

Kota Malang : Ke Manakah Hawa Sejukmu?


Global Warming

Hot! Panas! Itulah kata yang sering diucapkan warga Kota Malang saat ini. Ya, panas bukanlah sesuatu yang identik dengan Kota Malang, atau tepatnya Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Sejuk, itulah yang harusnya selalu menjadi identitas Malang Raya. Cukup sejuk saja, tidak terlalu dingin seperti Kota Bandung untuk ukuran negara tropis seperti Indonesia.

Mungkin beberapa daerah seperti Kota Batu dan beberapa daerah di tempat yang lebih tinggi dari rata-rata di Kota Malang misalnya daerah Dieng masih cukup sejuk, tetapi tetap saja kesejukan itu berkurang dari yang seharusnya. Bisa saya katakan bahwa suhu Malang Raya yang normal terakhir kali terjadi kurang lebih kisaran tahun 2010.

Secara spesifik, bisa kita rasakan terutama bila berada dalam ruangan alias indoor. Jika keluar pada pagi hari ataupun malam hari masih akan terasa angin sepoi-sepoi, namun ketika sudah memasuki ruangan, apalagi tanpa AC, akan terasa panasnya. Huft, semacam di Surabaya saja. Kalau Surabaya sih wajar karena termasuk dataran rendah.

Saya yang termasuk snotty brat (bocah ingusan) atau bisa dibilang alergi terhadap udara dingin, hampir tidak pernah mengalaminya lagi 5 tahun belakangan ini, kecuali karena flu akibat kehujanan. Padahal sebelumnya hampir setiap Subuh saya meler akibat kedinginan xD.

Sebenarnya bukan sepanjang tahun panas ini menyerang Malang Raya, tetapi ada bulan-bulan tertentu di mana hawa yang sesungguhnya kembali menghinggapi Malang Raya. Well, truth to be told itu adalah kisaran bulan menjelang Ramadan sampai dengan akhir Syawal. Menarik bukan, bukan berdasarkan bulan Masehi, tetapi berdasarkan bulan Hijriyah. Dan pastinya semua umat Islam tahu bahwa bulan Ramadan ini adalah bulan sakral, di mana banyak malaikat yang turun ke bumi dan setan-setan dibelenggu. Jangan-jangan itu penyebabanya?

Haha, aneh tapi nyata itu memang kenyataannya. Tidak peduli bulan Ramadan-Syawal termasuk musim hujan atau kemarau, tetapi ketika bulan Ramadan tiba, udara di Malang tiba-tiba kembali normal. Nooo panas, man! Adem, enak tanpa AC. Well, saya golongan yang tidak terlalu suka AC. Daripada AC, entah kenapa saya lebih suka udara segar alami dari alam.

Dari fakta tersebut, mungkin bisa dikatakan terlalu banyak dosa yang sudah dilakukan Malang Raya ini #ustadmodeon. Bagaimana bila dilihat dari sudut pandang ilmiah? Status kota Malang sebagai kota yang mempunyai cukup banyak universitas mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Mahasiswa dari luar kota berbondong-bondong memasuki kota Malang dan sekitarnya. Tidak berhenti di situ, tetapi kebanyakan dari mereka juga membawa kendaraan pribadi masing-masing sebagai alat transportasi di Malang nantinya. Pastinya sesuai dengan statistik kendaraan yang paling banyak di Indonesia saat ini, motor menempati nomor pertama sebagai kendaraan terlaris.

Yap yap, akibatnya emisi gas buang dari kendaraan bermotor semakin bertambah dari hari ke hari. Rumah orang tua saya yang dulunya diapit hamparan sawah dan sepi dari kendaraan bermotor kini hampir selalu ramai tiap detiknya. Apalagi daerah sekitar kampus. Yah, ini efek dari pemerintah juga yang tidak bisa mengerem penjualan kendaraan bermotor. Padahal mantap kalau kendaraan umum menjadi sarana transportasi nomor satu.

Selain bulan Ramadan-Syawal, terkadang ada juga saat-saat udara di Malang menjadi normal. Tetapi itu merupakan suatu fenomena yang sangat langka. Huhuhuhu.

So, apakah kita harus mengeluh dengan situasi seperti ini? Hmm, kalau menurut saya pribadi daripada kita membandingkan dengan yang lebih baik, alangkah baiknya kita membandingkan dengan daerah yang keadaannya lebih buruk. Itu akan mengingatkan kita akan pentingnya bersyukur kepada Sang Pencipta.

Mari kita bandingkan dengan daerah-daerah di Sumatra dan Kalimantan yang mengalami bencana asap akibat pembakaran hutan. Huhu, membayangkannya saja ngeri ketika melihat berita di televisi. Saya memang belum pernah mengunjungi, walaupun begitu saya bisa membayangkan. Pasti pernahlah berada di tempat yang membakar sesuatu, misalnya saja membakar ranting-ranting pohon maupun sampah. Dirasakan saja bagaimana rasanya ketika berada di sekitar daerah bakaran tersebut.

Akhir kata, wassalamualaikum wr. wb. Eits, sebentar. Udara panas mungkin tidak perlu terlalu dikeluhkan, karena bukankah kita serasa spa gratisan? Hahaha. Lumayan untuk menjaga berat badan :D

Sumber Gambar :
Gambar Judul
http://citizendaily.net/wp-content/uploads/2015/05/panas.jpg

About The Author:

Ferdy Hendrawan [Administrator of this Blog]

Seorang self-employed lulusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya yang kini mendalami dunia trading market dan juga dunia per-Blogger-an. Kunjungi juga blog saya yang baru di Fair_De's Corner


Let's Get Connected: Twitter | Facebook | Google Plus | YouTube

0 comments:

Post a Comment

Feel free to ask if you have any questions..
Don't forget to thick "Notify me" so you can know when I'm answer your question later..
Or you also can bookmarking this post..

Thank you :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More