-->

Mengatasi Masalah "Insufficient Space" pada Google Play Store versi 4.9.13


Keinginan untuk memperbarui beberapa aplikasi pada Android membuat saya tergerak untuk menjalankan Play Store kemarin. Sekilas tidak ada yang berbeda pada halaman awal Play Store, perbedaaan baru terasa saat kita mengakses halaman khusus aplikasi yang ingin kita lihat. Berikut ini adalah screen shot dari halaman aplikasi Path pada Google Play Store yang baru, versi 4.9.13.

Tampilan Baru pada Google Play Store 4.9.13

Akan terlihat bahwa kini terdapat semacam cover di atas dan diikuti icon serta tombol install. Kemudian di bawahnya terdepat informasi tentang sudah diunduh sebanyak berapa kali, rating aplikasi, dan jenis aplikasi. Di bawahnya lagi ada deskripsi tentang aplikasi tersebut yang harus kita tekan dulu "Read More" yang diikuti dengan beberapa screen shot dari aplikasi yang mungkin terlihat lebih besar daripada versi sebelumnya. Itu adalah sekilas gambaran tentang Google Play Store versi 4.9.13.

Sekilas mungkin tampilan anyar ini cukup menarik bagi mata kita, namun bagi saya pribadi ada satu perubahan yang cukup menjengkelkan, yaitu tidak ditampilkannya berapa ukuran aplikasi yang akan kita unduh. Untuk melihat ukuran aplikasi, kita harus menuju terlebih dahulu deskripsi aplikasi dengan cara menekan "Read More", baru kita akan menemukannya di bagian paling bawah dari deskripsi. Sebuah update yang merupakan kemunduran saya rasa, karena ini sama seperti versi-versi awal Play Store (untuk tidak mencantumkan ukuran file di depan).

Bukan itu tetapi masalah utama pada update kali ini, melainkan adanya error untuk beberapa device, khususnya yang mempunyai chipset MediaTek. Error kali ini adalah error "There is insufficient space on the device." Ya, kalau memang pada device cuma tersisa 1-2 digit MB pada memory internal mungkin masih masuk diakal pesan error tersebut. Masalahnya, pesan ini terjadi di device yang sebenarnya masih memiliki memory internal ratusan MB, bahkan 1-2 digit GB.

Karena bertepatan dengan adanya update pada Google Play Store, maka saya bisa langsung menyimpulkan bahwa ini adalah salah satu bug yang ada pada update kali ini, tepatnya untuk device tertentu. Cukup mengganggu memang, karena selain tidak bisa menginstal aplikasi baru, kita juga tidak bisa mengupdate aplikasi lama yang telah terinstall di device kita.

Cara paling aman dan tidak membahayakan device (malfungsi device, data hilang, dsb.) untuk menyelesaikan masalah ini adalah menunggu update terbaru dari Google Play Store. Memang dengan cara ini kita tidak akan mengetahui kapan pastinya kita bisa kembali menikmati fasilitas dari Google Play Store secara normal lagi. Cukup tidak mengenakkan memang karena error ini terjadi di aplikasi inti untuk device berbasis sistem operasi Android.

Pesan Error Insufficient Space

Jika Anda mau sedikit repot untuk mencari aplikasi baru atau mengupdate aplikasi tanpa Google Play Store, berikut adalah langkah-langkahnya :
1. Buka Play Store, di sini Play Store hanya digunakan sebagai referensi.
2. Cari aplikasi yang Anda inginkan (untuk aplikasi baru) atau langsung buka halaman tentang aplikasi yang ingin Anda update (untuk aplikasi lama).
3. Hafalkan nama aplikasi beserta versinya.
4. Cari aplikasi tersebut melalui browser Anda dengan kata kunci nama "aplikasi+versi" lalu tambahkan "apk" di belakangnya.

Atau jika Anda tidak mau terlalu repot karena menggunakan cara di atas berarti mencari aplikasi satu per satu, yang artinya tidak efisien untuk pencarian/update aplikasi dalam jumlah cukup besar. Anda bisa menggunakan aplikasi setara Google Play Store atau bisa juga dikatakan aplikasi alternatif, untuk list lengkapnya bisa Anda lihat di sini. Hanya saja untuk aplikasi alternatif ini, tidak semua aplikasi yang terdapat di Play Store akan Anda temukan, tetapi Anda bisa juga menemukan beberapa aplikasi yang tidak terdapat di Play Store.

Begitulah 2 cara yang untuk sementara ini dapat kita lakukan sebelum Google melakukan update terbaru pada Play Store. Eh, tunggu sebentar. Sebenarnya bisa saja kita membuat Google Play Store kita berfungsi, walaupun hanya sebentar alias satu kali "launch" saja. Yakni dengan cara mengembalikan versi Google Play Store kita ke versi asli pabrikan device.

Cara untuk mengembalikan Play Store ke versi pabrikan adalah sebagai berikut :
1. Cari Play Store pada menu di device Anda, jangan shortcut di homescreen
2. Tahan icon Play Store dan pilih App Info, atau mungkin tergantung versi Android Anda untuk versi di bawah versi 4.0. Yang penting sampai kita melihat App Info/Properties dari Play Store.
3. Akan ada pilihan Uninstall Updates, ini berfungsi untuk menghilangkan update yang terjadi pada Play Store saja, bukan keseluruhan aplikasi yang ada di device kita. Pilih Ya (Yes) untuk menguninstall updates.
4. Akan peringatan tambahan bahwa menghapus update berarti akan mengembalikan Play Store Anda ke versi pabrikan, tekan Ya (Yes) lagi.
5. Ok, sekarang Play Store Anda sudah kembali ke versi pabrikan lagi. Di mana versi pabrikan ini adalah versi adalah versi Play Store yang paling stabil (dan seharusnya terbaru) di saat pembuatan device Anda.

App Info untuk Google Play Store

Untuk sementara ini Anda akan bisa mengupdate dan mencari aplikasi baru dengan tenang, walaupun kemungkinan terburuk hanya untuk satu kali launch dan maksimal sampai Anda reboot device. Walaupun begitu, dengan cara ini kita bisa dengan mudah mencari aplikasi baru maupun mengupdate aplikasi lama, dengan nuansa sedikit retro (karena versi lama). Jika nantinya Anda mendapati Play Store Anda telah kembali ke versi terbaru (terutama jika sudah bukan versi 4.9.13), coba dicek terlebih dahulu apakah masih terdapat pesan "insufficient space" atau tidak. Jika masih ada, Anda bisa menguninstall update yang terjadi pada Play Store lagi. Jika tidak, berarti selamat, Anda sudah terbebas dari masalah "insufficient space."

Domain Baru, Semangat Baru


Dilihat dari tanggalnya sepertinya tulisan saya kali ini termasuk dalam kategori terlambat. Haha, sudah ganti domain sejak tanggal 12 Juni yang lalu tetapi baru menulis post baru sekarang.

Berhubung blog sedang di ujung "kebangkrutan" akibat tidak pernah diurus dan semakin tidak terjamah oleh Googlebot, akhirnya saya pun merencanakan untuk merevolusi blog ini. Pergantian domain adalah salah satu cara yang saya tempuh. Dari yang semula numpang domain blogspot (http://fair-de.blogspot.com/) menjadi nama domain saya sendiri (http://www.fair-de.com).

Sekarang, untuk mengakses blog saya bisa melalui 3 alamat :
- http://fair-de.blogspot.com/
- http://fair-de.com/
- http://www.fair-de.com/ (domain utama)

Jika Anda tidak mengakses melalui domain utama, tetap bisa mengakses blog saya ini, tetapi di-redirect (dialihkan) ke domain utama. http://www.fair-de.com/ digunakan sebagai domain utama karena blogger tidak mengijinkan penggunakan naked domain (domain tanpa www).

Sebelum mengimplementasikan domain baru, dua hari sebelumnya saya sudah terlebih dahulu menulis sebuah post yang saya rasa cukup bisa bersaing di search engine (Google). Dan akhirnya berbuah manis. Alexa Rank untuk blog saya telah kembali pada 22 Juni kemarin, dan langsung berlaku di domain baru, walaupun baru berkisar di 19m (19 juta). Setidaknya dengan munculnya digit-digit rank, sudah cukup menggembirakan buat saya, dibandingkan dengan melihat tulisan No Data.

Tanpa pikir panjang saya langsung memasang kembali widget Alexa Rank di sidebar blog ini. Cukup menarik untuk dilihat, mengingat sudah beberapa bulan hanya diisi dengan tulisan "No Data." Dengan ini berarti tinggal menunggu Page Rank saja yang sepertinya tahun ini belum dilakukan update satu pun. Lumayan nantinya update ketika sudah menggunakan domain baru.

Dalam rangka pergantian domain baru ini, beberapa revolusi juga akan saya lakukan (beberapa sudah dikerjakan), di antaranya :
- Mengganti counter stats menjadi flag counter yang hanya menghitung unique visitor per hari
- Mengupdate post-post lama
- Menghapus link-link download yang sebagian besar juga sudah expired
- Dan hal-hal lainnya yang belum direncanakan (bisa dicek di Changelogs)

Ya semoga saja walaupun dalam momen Ramadhan saya masih bisa menyempatkan diri untuk mengurus blog ini.
Aamiin...

Sulitkah untuk Mendapatkan Sertifikat TOEIC dan IC3 UB ?

Sudah hampir satu bulan berlalu semenjak tulisan saya sebelumnya, tetapi Alexa Rank ternyata belum bertambah. Haha, usut punya usut ternyata blog saya belum juga ada di index google. Mungkin ya karena vakum cukup lama dan "baru" menambahkan 1 post baru.


Ok, kali ini saya tergelitik untuk membuat sebuah post tentang tes TOEIC dan IC3 yang mulai semester kemarin (semester ganjil 2013) diterapkan di kampus saya (Universitas Brawijaya Malang). Kepanjangan TOEIC sendiri adalah "Test of English for International Communication", sedangkan kepanjangan IC3 adalah "Internet and Computing Core Certification." Saya tertarik untuk membahas permasalahan ini karena sampai masuk "Radar Malang" (Jawa Pos Group) beberapa hari yang lalu. Di sana disebutkan bahwa ribuan ijazah mahasiswa UB tersandera karena belum lulus tes TOEIC dan IC3, di mana sertifikat kelulusan TOEIC dan IC3 menjadi salah satu syarat agar bisa mengikuti wisuda.

Nah, pertanyaannya sekarang adalah apakah memang begitu sulitkah tes TOEIC dan IC3 ? Mari kita lihat dulu syarat kelulusan untuk keduanya terlebih dahulu. Untuk TOEIC, dulu syarat kelulusannya adalah 500 (sekitar 50%) namun belakangan dikurangi menjadi 400, dan untuk IC3 dari yang dulunya harus lulus 2 dari 3 modul, belakangan diturunkan standarnya menjadi hanya 1 dari 3 modul. Setidaknya itu yang berlaku di jurusan Teknik Elektro, tetapi seharusnya bersifat global. Karena saya lihat di koran ada kesimpang-siuran berita di mana IC3 sebelumnya harus lolos semua, padahal saya pernah bertanya kepada beberapa teman di jurusan lain bahwa lolos 1-2 modul saja sudah cukup, tergantung kebijakan jurusan mereka masing-masing. Tidak ada yang mengatakan harus lolos semua, karena itu jelas memberatkan di mana ada 1 modul yang tingkatnya sedikit di atas dasar.

Di Teknik Elektro sendiri salah satu syarat wisuda awalnya bukanlah tes IC3, melainkan 2 buah sertifikat training yang berhubungan dengan komputer. Tetapi berhubung mulai semester kemarin diterapkan tes IC3, sehingga 2 buah sertifikat training tersebut digantikan dengan sertifikat kelulusan IC3 untuk 2 buah modul. Untuk saya pribadi, ini malah (mungkin) satu-satunya kebijakan Bung Kumis (baca : Prof. Yogi) yang saya sukai (sedangkan untuk kebijakan-kebijakan yang lain benar-benar di luar batas kewajaran, misalnya saja mahalnya biaya UKT, SPP Progresif, pembangunan pavling di saat musim hujan, dan lain lain). Karena dengan begitu, saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk training, walaupun mungkin jika gagal saya pun akhirnya harus mengeluarkan uang untuk mengulang, tapi itu pun mungkin hanya mengulang 1 modul, dan biayanya hanya setara dengan 1 training komputer. Yang paling penting kedua sertifikat ini cukup membantu lulusannya, karena bertingkat internasional.

Hal yang juga perlu diluruskan adalah kedua tes ini bersifat "gratis", di mana TOEIC gratis selama 3x percobaan dan IC3 selama 1x percobaan. Jadi cukup lucu juga ketika saya membaca di Radar Malang, karena mereka mengatakan bahwa tes IC3 harus membayar, berarti mereka kurang mendapatkan informasi. Yang lebih lucu lagi adalah presiden BEM tidak tahu-menahu tentang kedua tes ini, dan memberikan pernyataan bahwa seharusnya tidak ada tes yang menyulitkan setelah lulus (kurang lebih seperti itu), padahal yang benar kita harusnya sudah melaksanakan tes itu setidaknya 1 semester sebelum lulus sidang (kompre).

Kembali ke permasalahan utama, seberapa sulit kedua tes ini. Sebenarnya sudah sejak 2 bulan lalu saya ingin membuat post khusus untuk TOEIC dan IC3, karena itu di post ini saya bahas kesulitannya secara global saja.

Untuk TOEIC, syarat kelulusannya adalah 400 poin (sekitar 40% benar dari keseluruhan soal). Nah, kita pakai logika saja, untuk tingkatan mahasiswa, seharusnya ini sudah poin minimal karena seharusnya mereka sudah menguasai setidaknya dasar-dasar bahasa Inggris. TOEIC ini isinya sebagian besar hanya berisi tentang apakah kita bisa menerima informasi dengan benar, jadi jawaban satu dan lainnya hampir tidak berkaitan, berbeda dengan TOEFL yang erat berhubungan dengan grammar sehingga jawaban satu dan lainnya sulit dibedakan mana yang benar jika tidak jeli dalam membaca atau mendengarkan soal. Karena terdiri dari 100 soal listening dan 100 soal reading, maka minimal kita harus menjawab benar 40 soal untuk masing-masing sesi. Seharusnya kita malah tidak harus mencari nilai minimal lagi, tetapi nilai maksimal.

Sedangkan untuk IC3 ada 3 modul, yaitu computing fundamentals, key applications, dan living online.
Isi tesnya kurang lebih :
- Untuk computing fundamentals berisi tentang hardware, software, dan dasar-dasar pengoperasian Windows
- Untuk key applications berisi tentang pengoperasian Microsoft Office 2007/2010
- Untuk living online berisi tentang seputar dunia maya (email, sosial media, dll.)

Dengan syarat terkini (atau mungkin masih berdasarkan kebijakan jurusan masing-masing) yang hanya 1 modul, sangat tidak wajar jika tidak lulus sama sekali, karena untuk jaman sekarang hampir setiap hari kita tidak bisa terpisah dari yang namanya komputer.

Jika memang targetnya hanya lolos 1 modul, maka modul living online adalah yang paling besar chancenya. Mengapa ? Karena online sudah menjadi life style. Untuk lulus dalam 1 modul kita harus mendapatkan score 70% dari nilai total (berbeda untuk tiap modul dan soal). Tetapi bukan berarti dengan fokus di 1 modul kita harus mengabaikan modul lainnya, karena menurut saya sangat mubazir. Setidaknya Anda harus lulus 2 modul, di mana modul satunya adalah computing fundamentals, yang menurut saya adalah modul termudah jika Anda memang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan komputer. Modul key applications sendiri merupakan bonus jika kita bisa mengerjakannya. Pertanyaan di tiap-tiap modul sendiri hampir pertanyaan dasar semua (kecuali key applications) yang harusnya tanpa persiapan khusus pun kita sudah bisa mengerjakannya.

Nah, apakah Anda masih menganggap bahwa kedua tes ini harus dihapus ? Kalau saya lebih setuju SPP Progresif yang dihapus, karena jelas-jelas memberatkan terutama untuk mahasiswa fakultas kedokteran dan teknik.

Alexa Rank : No Data

Rank Alexa Anda tiba-tiba menjadi No Data ? Well, kalau untuk kasus blog saya ini memang harus dimaklumi. Walaupun dulu di awal-awal jaman kuliah sempat mendekati angka 6 digit, tetapi seiring berjalannya waktu, kesempatan untuk blogging dan blogwalking semakin menipis. Akhirnya, Alexa rank pun stabil di kisaran 5 juta - 20 juta dan kini menjadi "No Data".


Sekarang pertanyaannya, kenapa bisa menjadi "No Data" ? Simpel saja penyebabnya, karena jarang post (hipotesis saya sendiri sih :p). Ya, memang jika Anda ingin blog Anda sering dikunjungi orang, terutama melalui search engine, maka kita setidaknya harus membuat post baru setidaknya 1x setiap 3-4 bulan. Mungkin bisa sedikit lama hingga 1x setiap 6 bulan, tetapi lebih dari itu banyak masalah yang akan timbul. Salah satunya yaitu rank Alexa Anda akan menjadi "No Data" seperti punya saya ini.

Selain ingin menyebarkan informasi, post singkat saya kali ini juga untuk men-"trigger" (memicu) robot-robot dari search engine ataupun robot-robot yang berhubungan dengan rank (Page Rank, Alexa Rank, dan lain-lain) supaya kembali mengunjungi blog saya ini. Hehe, siapa tahu saya tidak sempat membuat post lainnya, lumayan post singkat tapi multi-fungsi :).

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More